Sebagai salah satu kota pesisir, Kota Semarang sering dilanda banjir ketika hujan tiba. Tingginya curah hujan pada beberapa waktu terakhir membuat warga banyak bertanya, apakah banjir ini disebabkan oleh hujan saja, atau ada perubahan iklim dan alam yang mengancam kehidupan manusia di baliknya?
Menurut Anis Kurniasih, S.T., M.T. dari Departemen Teknik Geologi Undip, salah satu penyebab banjir memang adalah perubahan iklim. Namun, fenomena banjir ini tidak hanya karena iklim saja. Analisis terhadap pergeseran garis pantai menunjukkan bahwa ada potensi abrasi dan akresi di pesisir yang menyebabkan permukaan air laut semakin tinggi, sehingga banjir rentan terjadi.
“Kajian yang sudah dilakukan oleh para peneliti itu sebenarnya sudah cukup banyak dan rata-rata menyebutkan bahwa penyebab banjir salah satunya adalah isu perubahan iklim…itu salah satunya bisa kita mitigasi atau bisa kita identifikasi dari pergeseran garis pantai, yang kita menyebutnya abrasi atau akresi,” ujarnya.
Dalam Kentongan RRI Pro 1 Semarang edisi Rabu, 22 Oktober 2025, Anis menjelaskan bahwa perubahan iklim memang menyebabkan pergeseran garis pantai. Akan tetapi, fenomena ini bisa berbeda-beda di tiap daerah. Kondisi alam yang ada di sekitar pantai menyebabkan potensi banjir yang muncul di tiap daerah pesisir bisa berbeda-beda satu sama lain.
“Pemicu utamanya memang perubahan iklim, tapi satu lagi faktor pengontrol secara lokal, ada kondisi di daerah masing-masing. Diantaranya misalnya sedimentasi lokal. Jadi misalnya ada satu bagian sungai yang input sedimennya cukup banyak ke arah laut, itu justru menyeimbangkan,” tambahnya.
Bagi Anis, peran manusia cukup krusial dalam pergeseran garis pantai ini. Tindakan-tindakan manusia bisa memperparah masalah ini, seperti pengambilan air tanah yang berlebihan, pengerukan wilayah sungai, atau pembangunan di kawasan pesisir. Dengan naiknya air laut, maka abrasi ataupun akresi bisa semakin parah, sehingga dampaknya semakin merugikan.
“Pastinya ada peran yang cukup siginifikan dari manusia. Karena sebenarnya naik turun permukaan air laut terkait perubahan iklim ini sudah terjadi jutaan tahun yang lalu. Tapi dengan adanya manusia, dari data menunjukkan bahwa kondisi jadi semakin ekstrem,” ucap Anis.
Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengidentifikasi jenis kerusakan apa yang ada di daerah pesisir untuk menentukan tindakan apa yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, semisal reklamasi atau pemasangan tanggul. Anis berharap, pendekatan yang lebih ramah ekosistem bisa diutamakan, seperti menanam mangrove.
“Sebenarnya, langkah-langkah ini sudah ditempuh dengan membangun semacam tembok untuk menghalau air laut masuk ke darat. Tapi itu berpotensi merusak ekosistem secara lebih luas lagi. Jadi yang ramah terhadap ekosistem adalah menanam mangrove di daerah-daerah pesisir,” pesan Anis.