Air bersih merupakan kebutuhan utama bagi umat manusia. Namun, jumlahnya yang terbatas membuat air bersih rentan mengalami kelangkaan. Pengelolaan yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menangani bencana hidrologi ini.
Menurut Dr. Ir. Anik Sarminingsih, M.T., IPM., ASEAN Eng., kita bisa mulai mengelola air secara berkelanjutan dari rumah. Dalam Kentongan RRI Pro 1 Semarang tanggal 9 Juli 2025, Anik menjelaskan bahwa peran individu dan keluarga dalam mengelola air di rumah penting untuk mengatasi masalah ketersediaan air bersih di masa depan.
“Kalau kita baca data BPS, itu menunjukkan 80% rumah tangga di perkotaan itu boros air tanpa disadari. Jadi kita menggunakan air itu kadang-kadang semaunya,” ujarnya.
Dosen Departemen Teknik Lingkungan Undip ini menambahkan, masyarakat seharusnya mulai memperhatikan hal-hal kecil dalam menggunakan air tanah, seperti memperbaiki keran dan pipa air yang rusak, serta menghemat penggunaan air tanah.
“Keran bocor kita tidak terlalu peduli. Padahal seharusnya keran bocor ini bisa membuat air 20 liter per hari. Misalkan jumlah penduduk kita ada 1 juta rumah, artinya ini setara dengan kebutuhan 1 juta orang per hari, kalau satu orang misalnya 100 liter per hari,” jelasnya.
Selain memperhatikan penggunaan air, masyarakat juga perlu mengurangi dampak negatif dari limbah rumah tangga terhadap air melalui daur ulang dan pengurangan zat yang tidak ramah lingkungan.
“Kita bisa kasih treatment sebentar menggunakan tanaman, eco-tech garden, semisal menggunakan eceng gondok, menggunakan tanaman-tanaman air, nanti airnya kembali pulih, kembali balik lagi dan kita bisa manfaatkan ulang,” tambahnya.
Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah dengan menampung air hujan menggunakan biopori. Dengan biopori, masyarakat bisa menampung air sekaligus mengolah sampah organik yang ada di lingkungan sekitar.
“Jadi kita buat biopori-biopori. Kita buat sumur resapan, kita buat biopori untuk mengolah sampah organik sekaligus meresapkan air hujan. Jadi itu konsepnya konservasi.”
Namun, Anik mengingatkan, semua langkah ini tidak bisa berjalan baik apabila tidak ada dukungan dari pemerintah. Dukungan pemerintah perlu untuk memastikan bahwa pengelolaan air berkelanjutan terus dijalankan oleh masyarakat.
“Ini kewajiban kita bersama untuk menjaga lingkungan. Satu lagi, dari atas, jadi ada aturan yang mengikat dari pemerintah daerah, itu bisa dilakukan untuk warganya. Bagaimana kita tidak boleh mencemari sungai, itu bisa jalan kalau di atas juga turun, masyarakat kita beri motivasi, kita beri edukasi, kita kasih contoh aplikasi, itu bisa jalan,” pesannya.