Tim mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) sukses meraih Juara 3 untuk kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam kompetisi nasional bertajuk Expanding Science (ES) Defence 2026. Kompetisi ini digelar di Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan RI, pada 14-16 Agustus 2026.
Dalam kompetisi ini, tim yang beranggotakan Habib Mukhlis Triatmojo, Aqyal Ghana Zein, dan Muhammad Faris Revansyah membawakan karya yang berjudul “Teknologi Drone Autonomous Pendeteksi Kegiatan Ilegal Berbasis Multiparameter Terintegrasi Renewable Energy Station untuk Mendukung Pengawasan Hutan Konservasi secara Berkelanjutan”.
Habib Mukhlis Triatmojo, selaku salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa inovasi ini menggunakan teknologi dron otonom (autonomous drone) dengan stasiun pengisian daya bertenaga surya sebagai alat pengawas hutan.
“Secara singkat, karya kami merupakan sebuah alat drone autonomous yang mampu mengawasi kawasan hutan yang sulit dijangkau oleh pengawasan konvensional. Drone kami menerapkan charging station otomatis yang diintegrasikan dengan charging pad dan juga solar panel,” ujar Habib.
Keunggulan sistem dron ini terletak pada pendekatan multiparameter yang digunakan dalam sistem pengawasannya. Dengan pendekatan ini, dron bisa mendeteksi kegiatan ilegal di hutan yang sulit dijangkau secara lebih presisi.
“Inovasi kami ini berbeda dengan deteksi pada umumnya. Kami menggunakan sistem monitoring dengan pendekatan multiparameter menggunakan visual dari computer vision, audio dari audio detection MFCC, dan juga sniff dari chemical sniffer,” tambahnya.
Habib mengungkapkan, saat ini inovasi dron ini masih dalam tahap pengembangan dan difokuskan untuk mengawasi kegiatan ilegal di hutan. Ke depannya, ia dan timnya berencana untuk memperbaiki sistem yang ada serta memperluas jangkauan patroli dari teknologi ini.
“Kalau sejauh ini target kami di bagian kegiatan ilegal, seperti penebangan liar dan perburuan liar…Untuk sementara kami meningkatkan keakuratan dan memperkuat komunikasi antara drone dan pole, dan bisa melakukan riset lebih mendalam untuk deteksi kebakaran hutan seperti yang terjadi di Kalimantan,” pungkasnya.



