Tim Dermarga dari Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro berhasil meraih Runner Up untuk kasus Pacific Paint dalam kompetisi bertajuk Greenovate Challenge 2025. Babak final dari kompetisi ini digelar pada 25-26 Oktober 2025 di Veranda Hotel Pakubuwono, Jakarta Selatan.
Greenovate Challenge merupakan kompetisi inovasi yang diadakan oleh Universitas Pertamina. Kompetisi ini merupakan bagian dari Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP), yaitu inisiatif global untuk inovasi kimia hijau yang dipimpin oleh Yale University, UNIDO, dan GEF. Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi hingga profesional industri.
Dalam kompetisi tahun ini, para peserta ditantang untuk menangani kasus dan mencari solusi inovatif berbasis lingkungan bagi dua perusahaan sponsor, yaitu Pacific Paint dan Petrokimia Gresik. Nantinya, inovasi yang terpilih akan mendapatkan pendanaan dan bantuan untuk bisa dikembangkan sebagai rintisan.

Tim Dermarga yang diketuai oleh Benaya Matius Marpaung dan beranggotakan Lim Christoval Evandy Haryono, Henricus Jovan Setyanto, dan Elleonora Pramusita Prawira berhasil mengembangkan satu inovasi dalam bentuk pelarut cat yang diberi nama LactaSolve. Inovasi ini dikembangkan dari molases, yaitu produk organik sampingan dari refinasi gula, sehingga lebih murah dan ramah lingkungan.
“LactaSolve merupakan produk berupa pelarut (solvent) yang kami desain khusus untuk menjawab studi kasus dari PT Pacific Paint, di mana Pacific Paint sendiri saat ini sednag ingin mewujudkan transisi industri ramah lingkungan melalui penggantian pelarut cat yang digunakan di pabrik mereka saat ini, yaitu Pegasol-100 yang cenderung tidak ramah lingkungan dan butuh biaya tambahan untuk pre-treatment pembuangannya,” terang Benaya selaku ketua tim.
Menurut Benaya, inovasi ini tidak hanya mengatasi permasalahan lingkungan yang timbul akibat penggunaan Pegasol-100, tetapi juga bisa menghemat pengeluaran karena harga molases yang murah dan jumlahnya melimpah. Selain itu, pengolahan LactaSolve juga tidak terlalu kompleks sehingga realtif mudah untuk dikembangkan oleh perusahaan.
“Aspek pertama, bahan baku yang digunakan tersedia melimpah, terjangkau, dan spesifikasi untuk diolah tidak berbeda jauh apabila sumber pemasuk bahan bakunya berbeda, sehingga akan sangat mempermudah proses produksi dan meningkatkan nilai ekonominya. Aspek kedua terletak pada kompleksitas pengolahan raw material yang tergolong tidak terlalu tinggi,” tambahnya.
Benaya mengungkapkan, ia dan tim sempat tidak menyangka bisa meraih Runner Up dalam kompetisi ini. Baginya, capaian ini merupakan hal yang cukup membanggakan. “Jujur, di luar ekspektasi. Kami juga sangat kewalahan di hari tersebut karena dari 150 tim yang mendaftar, hanya 14 tim yang diambil…Kami sebagai satu-satunya pemenang berlatar belakang S1, ini benar-benar di luar ekspektasi.”
Ia dan timnya berharap, inovasi ini bisa dikembangkan lebih lanjut sebagai rintisan. “Kami harap kami dimampukan dan dimudahkan untuk mengeksekusi prototype inovasi kami di skala pilot plant ke depannya,” tutupnya.