Sebagai kampus hijau berskala internasional, Universitas Diponegoro selalu berupaya untuk menjalankan program-program hijau yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Sebagai upaya untuk mendukung program tersebut, Tim KKN Tematik (KKN-T) 166 Undip mencanangkan dua program berbasis SDGs, yaitu LRB Composter Initiative dan TERRA (Teknologi Ramah Lingkungan).
Program ini merupakan bagian dari World Class University, yaitu sebuah inisiatif yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro untuk mendukung program-program yang berpotensi dalam meningkatkan reputasi Undip di kancah global. Salah satu bagian dari program ini adalah Kelompok Mahasiswa SDGs. Dalam program ini, kelompok mahasiswa yang berfokus pada isu SDGs akan mendapatkan insentif untuk mendukung program-program terkait SDGs yang mereka canangkan.
Program pertama yang dibuat oleh Tim KKN-T 166 adalah LRB, atau Lubang Resapan Biopori. Program yang dimulai dari Juni hingga 9 Juli 2025 ini bertujuan untuk membuat lubang-lubang vertikal di 26 titik yang tersebar di 12 Departemen. Lubang ini nantinya berfungsi sebagai saluran resapan air hujan sekaligus tempat pengomposan sampah organik.

Kevin Samuel Jeremy Simangunsong, selaku Koordinator Program LRB berharap, program ini bisa bermanfaat besar bagi Fakultas Teknik Undip. “Semoga kegiatan LRB Composter ini memberi manfaat besar untuk Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan sejalan dengan tema SDGs KKN,” ucapnya.
Program berikutnya, yaitu TERRA, dimulai pada 20 Juli 2025 dan berakhir pada Agustus 2025. Program ini berfokus pada pembangunan TEBA untuk mengolah sampah organik di Departemen Teknik Lingkungan Undip.

TEBA sendiri diambil dari tradisi masyarakat Bali yang sering membuat lubang khusus untuk mengolah sampah rumah. Lubang teba ini kemudian digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos atau pakan alternatif bagi hewan peliharaan.
Menurut El Roy Joel Tyron Nugroho, Koordinator Program TERRA, TEBA didesain dengan bentuk bak beton terbuka yang dilengkapi dengan meja taman. Tujuannya adalah agar TEBA bisa menjadi ruang hijau multifungsi yang bisa dimanfaatkan oleh publik.
“TEBA ini bukan hanya tempat pengolahan sampah, tetapi juga ruang hijau multifungsi dengan meja taman yang bisa digunakan sebagai co-working space terbuka,” terangnya.
Ia berharap, program ini bisa menjadi sarana edukasi terkait budaya memilah sampah. “Harapannya, fasilitas ini menjadi sarana edukatif dan membentuk budaya memilah sampah sejak dini,” tukasnya.
Berita disadur dari Bima Putra Prasetya (Tim KKN-T 166 Undip)