Home / Kabar Fakultas / STUDI EKSEKURSI Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro

STUDI EKSEKURSI Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro

Tanggal 20 Juni 2009 yang lalu rombongan dosen dan mahasiswa  Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro  mengadakan studi eksekursi ke Monumen Panglima Besar Jendral Besar Soedirman yang berada dikota Pacitan, Jawa Timur. Tepatnya di daerah Pakis Baru, Nawangan. Studek (studi eksekursi) kali ini terbilang istimewa karena narasumbernya adalah Dr. Ir. H. Baskoro Tedjo, M.SEB yang tak lain adalah arsitek perancang kawasan. Monumen Panglima Besar Jendral Besar Soedirman.

Diawali pengarahan oleh Ketua Jurusan Arsitektur, Ir. Agung Dwiyanto, MSA dan ketua panitia studek, Dinar Adityas. Rombongan yang terdiri dari arsitek Dr. Ir. H. Baskoro Tedjo, M.SEB, dosen-dosen Jurusan arsitektur Fakultas Teknik (JAFT) UNDIP; Ir. Agung Dwiyanto, MSA – Ir. Abdul Malik, MSA – Ir. Indriastjario, M.Eng – Dr. Ir. Edi Purwanto, MT, dan  60 orang mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2006, 2007, dan 2008 ini beranjak meninggalkan  kampus JAFT pada pukul 06.30 WIB.

Perjalanan menuju desa nawangan pacitan ini memakan waktu sekitar 5 jam. Jarak Semarang-Pacitan yang cukup jauh. Perjalanan ini terbilang cukup menantang karena saat memasuki daerah desa Nawangan-Pacitan.

Ketegangan rombongan seolah hilang dalam sekejap karena langsung disambut dengan kawasan perbukitan dan udara yang sejuk dengan jalanan yang berkelok. Jalan menuju desa yang penuh tanjakan, turunan, dan kelokan tajam mengingatkan  rombongan akan penderitaan Soedirman pada masa-masa perjuanganya, karena dari arah mana pun perjalanan menuju Pakis Baru, yang dirasakan adalah jalan yang penuh tantangan. Para pengunjung seakan dapat merasakan betapa gigihnya perjuangan Jenderal Soedirman, walau dalam kondisi sakit-sakitan dengan hanya memiliki satu paru-paru saja.

Delapan Gerbang (GATE).
Sebelum mencapai Monumen Jendral Soedirman, rombongan disambut dengan 8 pintu gerbang yang menandakan delapan provinsi saat Jendral Soedirman bergerilya sepanjang tahun 1948 hingga 1949.
Di tiap-tiap gerbang tersebut bertuliskan kalimat-kalimat dan pesan-pesan Jendral Soedirman kepada pasukannya, misalnya ”Kemerdekaan sudah digenggam, jangan dilepaskan”.

Kalimat-kalimat Jendral Soedirman itu diabadikan di tiap-tiap gerbang agar para generasi penerus dapat termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara kita ini.

Monumen Jendral Soedirman
Akhirnya pada pukul 12.00 WIB rombongan tiba di Monumen Jendral Soedirman. Monumen tersebut tepanya terletak di sebuah bukit di Dukuh Sobo, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Pacitan, Jawa Timur.

Rombongan disambut gerbang terakhir yang bertuliskan “Bahwa satu-satunya hak milik nasional republic yang masih tetap utuh tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan adalah ahanya angkatan perang republic Indonesia (Tentara Republik Indonesia)“.

Memasuki kawasan monumen Jendral Soedirman yang masih dalam tahap revitalisasi ini, rombongan di sambut oleh diorama yang tertata rapi di depan Patung Jendral Soedirman. Panel relief ini berukuran 2 x 5 meter dan berbahan perunggu ini  menggambarkan perjalanan hidup Jendral Soedirman dari masa kelahiran beliau, belajar mengaji, masa sekolah, ikut kepanduan, menjadi anggota Pembela Tanah Air, memimpin gerilya, hingga beliau menutup usia.

Di kawasan yang luasnya 20 hektare tersebut nantinya akan terdapat tiga lapangan pendaratan helikopter, terdapat guesthouse, ruang pertemuan, teater terbuka, pasar seni, perpustakaan, tempat parkir, dan instalasi pengolah air. Jalan menuju tempat ini yang berbukitbukit sudah diratakan dan diperlebar menjadi empat meter. Sampai sekarang proses revitalisasi Monumen Jendral Soedirman masih terus berlangsung.

PATUNG JENDRAL SOEDIRMAN

Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman setinggi 7 meter itu berdiri gagah di atas sebuah bukit . Berjas panjang, berblangkon, tangan kirinya menggenggam tongkat kayu, ia menghadap ke utara. Di depannya terbentang lapangan luas yang memiliki tembok dan gapura-gapura yang terdiri dari relief-relief.

Panglima Besar Jendral Soedirman yang gagah dan bersahaja itu seakan tengah mengawasi pembangunan  bakal kawasan wisata sejarah modern yang dibangun untuk menghormati dirinya.

Banyak simbol kemerdekaan di situ. Delapan pintu gerbang menandakan delapan provinsi saat Soedirman bergerilya sepanjang 1948-1949. Untuk mencapai Patung Jendral Soedirman , orang harus melewati tiga anak tangga. Anak tangga  pertama berjumlah 45 anak tangga, anak tangga kedua 8 anak tangga, dan yang terakhir 17 anak tangga. Maksudnya tidak lain tidak bukan adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.

Sejarah Pembangunan Patung Jendral Soedirman
Patung Jendral Soedirman yang dibangun Roto Suwarno. Roto adalah warga Pakis Baru yang pada 1947 menjadi pengawal Jendral Soedirman. Jendral Soedirman pernah lebih dari tiga bulan, sejak 1 April sampai 7 Juli 1949, tinggal di desa ini. Ia menetap di rumah joglo sederhana milik seorang bayan bernama Karsosoemito.

Dari situ Jendral Soedirman mengatur komandan di daerah dan berkomunikasi dengan pejabat pemerintah di Yogya dengan cara mengirim kurir, Pada 7 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta.

Untuk mengenang Jendral Soedirman di desa itu, kuranglebih dua kilometer dari rumah Karsosoemito, Roto kemudian mendirikan patung Soedirman pada 1981. Biayanya Rp 2 miliar. Seluruhnya dari kocek Roto sendiri. Pembangunan dilakukan bertahap selama 13 tahun. Pada 1993, pembangunan terhenti karena kesulitan dana. Hingga akhir usianya, Roto tak sanggup melanjutkan pembangunan.

Revitalisasi Monumen Soedirman
Arsitek perancang kawasan ini yang juga narasumber studi ekskursi Baskoro Tedjo, yang tak lain adalah arsitek Pusat Informasi Majapahit dalam presentasinya mengatakan bahwa “Revitalisasi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali perjuangan perang gerilya Jenderal Soedirman maka dari itu konsep arsitektur yang digunakan yaitu konsep monumen kasatmata. Dimana konsep ini hanya menonjolkan patung Jenderal Soedirman yang telah ada sedangkan bangunan yang lainnya “ditenggelamkan” dalam site kawasan“ karena hal tersebutlah monumen Jendral Soedirman dikelilingi oleh landscape alam perbukitan yang indah.

Susunan Panitia study eksekursi MONUMEN JENDRAL SOEDIRMAN :

  • Dinar Adityas
  • Raka Pramudipta
  • Rama Pradipta
  • Athanasius riko
  • Puji Nugroho S
  • Syaiful Ramadhan

 

Informasi lebih lengkap kl
ik disini

About Fakultas Teknik

Baca Juga..

Rapat kerja FT 2019: Award bagi 8 Departemen Berprestasi

Rapat kerja FT 2019: Award bagi 8 drpartemen berprestasi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (FT Undip) …

IDEANATION CAMPUS ROADSHOW

Fakultas Teknik Universitas Diponegoro bekerjasama dengan BASIC (Baramulti Solution and Innovation Challenge) dan Narasi TV …

Leave a Reply